Lebih Akrab dengan Dr. Ibrahim Elfiky
"Berharaplah pada kebaikan niscaya Anda akan menemukannya." Hadis Nabi.
Sewaktu anak-anak, ia selalu bermimpi menjadi sosok istimewa. Setiap malam ia tidur dengan berangan-angan untuk menjadi seorang pimpinan sebuah hotel besar. Ia selalu mengatakan mimpinya itu kepada orang-orang di sekitarnya dengan harapan ada orang membantunya mewujudkan mimpi itu. Tetapi semua orang tidak peduli padanya dan, menurut mereka, impiannya hanyalah khayalan.
Ia begitu merasa tak berdaya dan gagal karena kecaman orang-orang terhadap mimpinya itu. Orang-orang mengingatkan agar ia bersikap realistis karena hidup di dunia ini orang harus menyadari kenyataan dan tidak boleh terbuai oleh khayalan dalam waktu yang lama.
Ketika beranjak dewasa, sang pemimpi ini bertekad ingin belajar di bidang perhotelan. Ia belajar dan lulus. Setelah lulus, ia siap menghadapi kenyataan hidup di negaranya. Setelah menikah ia memutuskan untuk pindah ke salah satu negara Barat lantaran ingin mewujudkan impiannya. Kanada adalah tujuannya.
Ia pindah ke Kanada bersama dua sayap: cita-cita dan optimisme. Dan seperti biasa, ia berjumpa dengan orang-orang yang melemahkan semangatya dan berupaya menjegal impiannya. Mereka bilang bahwa ia tidak punya uang, miskin pengalaman, tidak fasih bicara bahasa setempat, bahkan ijazah yang dia peroleh dengan susah payah tidak diakui di Kanada. Semuanya menyakitkan dan membuatnya dihantui kegagalan.
“Apa yang harus saya lakukan?” Begitulah ia bertanya pada dirinya dengan bingung. “Apakah saya harus kembali ke negara saya dan menerima ejekan dari orang yang pernah mengatakan tidak ada jalan kesuksesan untuk saya.” Atau ia tetap bertahan di sini di mana peluang sukses hampir tidak ada dan diliputi kondisi yang buruk.
Selama berada dalam kebingungan, ia bekerja menjadi tukang cuci piring di hotel di Kanada. Sampai tiba suatu hari, ia seperti didatangi oleh ayahnya yang telah wafat beberapa tahun silam sambil membacakan ayat Al-Quran, Allah tak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali mereka sendiri yang mengubah keadaannya (al-Ra‘d: 11).
Ayat ini seperti membuka jalan yang tertutup dan menyinari lorong yang gelap. Ia berkata pada diri sendiri, “Apakah ada masalah dengan kondisi yang tidak menguntungkan, kegagalan yang berulang, dan derita selalu datang?” Thomas Edison gagal lebih dari sepuluh ribu kali sebelum menemukan benda yang dapat menerangi bumi. Walt Disney tujuh kali bangkrut. Henry Ford pailit enam kali. Mereka tidak putus asa dan mereka tidak menganggap itu sebagai kegagalan. “Saya harus seperti mereka!”
Pemuda itu punya energi baru yang lahir dari keinginan dan kekuatan untuk selalu berbuat. Maka ia belajar sampai meraih diploma jurusan perhotelan di Kanada. Angan-angan dan optimismenya kembali bergelora dan ia dapat tersenyum kembali. Kesehatannya semakin membaik hingga ia dapat melangkah penuh ketekunan menuju impiannya.
Pada pagi hari ia bekerja paruh waktu di sebuah restoran kecil. Ia juga belajar di universitas untuk meraih gelar di bidang perhotelan. Di malam hari ia mengelola rumah makan malam. Ia terus menggeluti pekerjaannya, lalu ia berhasil meraih gelar, sampai dia menjadi direktur di sebuah hotel. Ia yakin impiannya akan menjadi kenyataan.
Tetapi jiwanya yang haus merasa tidak cukup dengan itu semua. Ia pun berhasil mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di hotel yang lebih besar. Ia melanjutkan studinya dan mendapatkan sertifikat penghargaan sebagai mahasiswa terbaik di bidang perhotelan, penghargaan nasional dari Amerika Serikat.
Karena angin sering berembus tidak sesuai dengan tujuan kapal-kapal, terjadilah sesuatu yang tidak pernah terbanyangkan. Para pemilik hotel tempat ia bekerja tiba-tiba memutuskan untuk menutup hotel. Maka ia harus meninggalkan kantornya, menyerahkan semua kunci mobil, dan kembali naik ke dalam taksi untuk pulang ke rumah.
Banyak orang yang berusaha menghalangi langkahnya menuju kesuksesan. Untuk kedua kalinya, bayangan bapaknya datang untuk mengingatkan dia dengan ungkapan bijak, “Yakinlah, Anakku. Allah tidak mengunci satu pintu kecuali akan membukakan pintu yang lain. Bisa jadi pintu yang lain lebih luas dan lebih menyenangkan.”
Ia memperhatikan diri sendiri, melihat berbagai potensi yang mungkin dapat digunakan untuk membuka pintu. Ia menemukan beberapa ide yang sering datang padanya. Kemudian ide-ide itu ia kumpulkan dalam satu gagasan khusus. Ia memutuskan untuk menjadikan gagasan ini sebagai modal penulisan buku-bukunya yang ia tulis di kemudian hari.
Ia mulai menggarap bukunya hingga selesai dan mengirimkannya ke sejumlah penerbit. Tetapi mereka menolak menerbitkannya tanpa alasan yang jelas. Setelah berjuang menawarkan bukunya ke berbagai penerbit, ia berpikir untuk menerbitkan sendiri buku itu dengan jumlah 5.000 kopi pada triwulan pertama. Selain itu, ia juga memberikan pelatihan dan konseling kepada orang-orang agar dapat menggapai tujuan hidup mereka.
Sekarang, setelah 30 tahun perjalanan hidupnya menelusuri lorong-lorong kehidupan, pemuda ini tampak lebih sukses dari masa-masa sebelumnya. Buku-bukunya tersebar luas dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pengetahuannya lebih luas dan berbagai teorinya menjadi rujukan berbagai perusahaan besar di dunia. Ia keliling dunia untuk berbagi kepada orang lain mengenai prinsip hidup yang benar. Kebahagiaannya adalah membantu orang lain.
Siapa pemuda ini? Dialah Ibrahim Elfiky. Kini ia menjadi pendiri dan ketua dewan komisaris beberapa perusahaan berskala internasional, antara lain: Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia di Kanada (CTCHD); Pusat Kekuatan Potensi Manusia di Kanada (CTCPHE); Pusat Anestesi dengan Sugesti di Kanada (CTCH); Pusat Pemprograman Bahasa Saraf di Kanada (CTCNLP).
Selain meraih gelar doktor di bidang metafisika di Universitas Los Angeles, Dr. Elfiky meraih 23 gelar diploma dari beberapa lembaga papan atas di bidang pengembangan Sumber Daya Manusia, Manajemen, dan Marketing serta diakui sebagai penyusun dan peletak dasar ilmu Neuro Conditioning Dynamic (NCDTM) dan ilmu Power Human EnergyTM (PHETM).
Di sela-sela kesibukannya sebagai direktur utama beberapa hotel bintang lima di Montreal, Kanada, Dr. Elfiky aktif menjadi trainer andal di bidang pengembangan Sumber Daya Manusia pada beberapa perusahaan dan yayasan di Québec, Kanada. Media Amerika dan Kanada menjulukinya pembicara terbaik dunia. Ia telah melatih lebih dari 700.000 orang melalui seminar dan pelatihan yang digelar di seluruh dunia dengan tiga bahasa: Inggris, Prancis, dan Arab.
Karya tulisnya telah diterjemahkan ke dalam lima bahasa (Inggris, Prancis, Arab, Kurdi, dan Indonesia), dan terjual jutaan eksemplar di dunia.
Duta Mesir untuk lomba tenis meja dalam kejuaraan dunia di Jerman Barat tahun 1969 ini kini tinggal di Montreal, Kanada, bersama sang istri, Âmâl, dua putri kembarnya, Nancy dan Nermine, berikut dua cucunya, Malik dan Ziyad.
view: 785Sumber: Penerbit Zaman